Seperti Merpati
“ebiiiii
!!! jangan curang kalo maiiiin” teriak
anak itu,anak itu seorang gadis kecil yang berkuncir dua, mempunyai mata yang
indah, dan berjiwa pemberani. Gadis kecil itu bernama Rina.
“hahahaha”
aku tak terlalu menanggapinya. Segera saja aku berlari agar tak terkena
pukulannya yang lumayan sakit.
“masaa
bodooooooh !!! aku malas main sama kamu lagi ! enyaaaaah kau dari sini” raut
wajahnya berubah seram dan penuh kesalan, ia pun tak segan-segan mengusirku
dari taman ini. Tangan kanannya sudah bersiap-siap untuk mencubit.
“ayolaaaaaah
ini hanya permainan” aku berusaha mendamaikan suasana.
Di
sekitar kami selusin anak tengah tertawa cekikikan, petengkaran ini sudah biasa
terjadi, apalagi yang terjadi karna masalah sepele, contohnya saat ini aku
hanya bercanda sedikit curang ketika main petak umpet, dan aku mengintip dari
balik penjagaanku, ketika ia tahu aku mengintip ia langsung kesal. Ini hanya
sesaat besok akan berdamai lagi,tapi tetap saja tiada hari tanpa bertengkar. “sungguh gadis yang kejam” fikirku.
“masa
bodooh mau permainan atau tidak, tapi kau telah curang !” katanya tanpa ampun,
kemudian pergi meninggalkan taman.
Esoknya…
“rinaaaaaaaaaaa
…. Main yukkk ?” kataku di depan rumahnya.
“main
apa? ” katanya riang.
Nah
benar kan ? Apa kataku. Kami sudah berdamai tanpa ada yang minta maaf, ini yang
membuat kami bersahabat, entah mengapa kami merasa saling cocok.
“main
bolaaaa” kataku semangat.
“bola
? hmm yasudah.”
Kami bergegas menuju lapangan bola
yang tak jauh dari taman, seperti biasa taman ini selalu ramai oleh anak-anak
sebayaku, meskipun dari SD dan kelas yang berbeda, kami semua tetap akur, Tapi
entah kenapa sejak tiba di lapangan Rina bersifat dingin, apa masih marah karna
soal kemarin, biasanya ia selalu semangat jika ku ajak bermain bola. Kalau hari
biasa dia ramai mengatur strategi, atau sekedar menjadi kiper, tapi kali ini ia
termenung dan hanya duduk di pinggir lapangan dengan wajah sedih, kenapa dia ?
segera saja aku mendekatinya.
“kamu
kenapa ?” tanyaku.
“besok
aku pindah ke Tibet, ibuku akan bertugas disana dengan waktu yang cukup lama,
dan gatau kapan kesini lagi,kita akan berpisah” katanya spontan dengan butiran
bening mengalir dipipinya.
“Dia
menangis ! astgaaa…….” Kataku dalam hati, aku sangat terkejut mendengar berita
itu. Tapi sebagai anak laki-laki aku berusaha menahan air mataku.
“aku
berangkat kebandara jam 12siang, aku harap kita bisa berjumpa sebelum aku
pergi” pintanya sambil berjalan pulang.
Aku hanya terbengong diam di pinggir
lapangan, bagaimana bisa ? aku kesal dengan takdirku yang mengharuskan berpisah
dengan dia, dia sahabat terbaikku meskipun kami berbeda (aku laki-laki ,dan dia
perempuan) tapi kami tetap kompak. Dengan langkah gontai aku menuju rumah.
Esok paginya entah bagaimana caranya
aku harus bolos sekolah, terus terang aku kepada ibuku mengenai pindahnya Rina
dan ibuku ,menyetujuinya aku tidak sekolah hari ini agar bisa mengantar
kepergian Rina. Jam 10 aku segera bergegas menuju taman, disitulah kami
berjanji akan bertemu,tanpa ku duga Rina sudah ada disana, padahal jadwal
ketemuan kami jam 11. Ku lihat matanya mengisaratkan kesedihan namun terhalang
oleh keceriaannya, kulihat matanya sedikit membesar dan merah, mungkin tadi
malam ia menangis. Entah kenapa perasaanku menjadi merasakan takut kehilangan,
sangaaat takut kehilangan.
“kamu udah dateng ?” katanya tanpa
mengengok ke arahku. Mungkin ia sadar kehadiranku.
“kamu sendiri kenapa udah dating jam
segini ?” aku balas bertanya lagi.
“aku mau ngucapin perpisahan sama
semua isi taman ini” jawabnya.
“kamu beneran jadi pindah ?” tanyaku
lagi.
“iya” jawabnya singkat.
“kenapa takut kangen ya ? haha…
gausah takut aku juga ngerasain apa yang kamu rasa” lanjutnya.
“apa maksudnya ? ia merasakan apa
yang aku rasa ?” batinku.
“sebentar lagi aku mau pergi, aku menitipkan
ini …” katanya sambil menyerahkan sebuah kalung berbandul seekor merpati
berwarna putih kebiru-biruan muda.
“kata banyak orang, merpati akan
selalu setia, dia tak akan terpisah karna memiliki ikatan batin sekalipun
mereka terpisah jauuuh,ia akan kembali pada pasangannya, rumahnya, dan apapun
tujuannya akan bertemu kembali, dan aku mau kita kaya merpati, tidak akan
terpisah sejauh apapun jarak yang membentang.” Jelasnya, kali ini ia terlihat
lebih tegar daripada kemarin. Aku kagum terhadapnya, tanpa sengaja aku langsung
memeluknya.
“makasih udah mau jadi sahabat aku,
makasih udah mau mempercayai aku untuk menjanga kalung ini, dimanapun kita
berada sejauh dan sesulit apapun yang kita hadapi kita tetap satu” kataku,aku
merasakan pundakku basah karna tangisannya. Akupun menyeka air matanya.
“jangan nangis,janji sama aku kamu
harus tegar !”
“iya bi,aku janji”katanya sambil
tersenyum dan pergi meninggalkan taman.
“aku tunggu kamu yaa untuk kembali ke
aku lagi !” teriakku.
Ia menoleh dan tersenyum tanpa sedikit
kata-kata kemudian melambaikan tangan.
Itulah ingatan perjumpaan terakhirku
dengan dia,genap 6tahun yang lalu, di taman ini. Aku selalu mengenang hari
terakhir itu, dan aku sesuai janjiku,aku masih menunggu dia untuk datang
kembali, ke taman ini dan kepadau. Tanganku menggenggam kalung itu, hanya ini tanda pengenal kita nanti, dimasa yang akan datang ketika tak ada satupun yang saling mengenal. Tapi aku yakin suatu
hari penantian ini akan berakhir dengan kebahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar