Cari Blog Ini

Rabu, 30 Mei 2012

Seperti Merpati


Seperti Merpati
“ebiiiii !!!  jangan curang kalo maiiiin” teriak anak itu,anak itu seorang gadis kecil yang berkuncir dua, mempunyai mata yang indah, dan berjiwa pemberani. Gadis kecil itu bernama Rina.
“hahahaha” aku tak terlalu menanggapinya. Segera saja aku berlari agar tak terkena pukulannya yang lumayan sakit.
“masaa bodooooooh !!! aku malas main sama kamu lagi ! enyaaaaah kau dari sini” raut wajahnya berubah seram dan penuh kesalan, ia pun tak segan-segan mengusirku dari taman ini. Tangan kanannya sudah bersiap-siap untuk mencubit.
“ayolaaaaaah ini hanya permainan” aku berusaha mendamaikan suasana.
          Di sekitar kami selusin anak tengah tertawa cekikikan, petengkaran ini sudah biasa terjadi, apalagi yang terjadi karna masalah sepele, contohnya saat ini aku hanya bercanda sedikit curang ketika main petak umpet, dan aku mengintip dari balik penjagaanku, ketika ia tahu aku mengintip ia langsung kesal. Ini hanya sesaat besok akan berdamai lagi,tapi tetap saja tiada hari tanpa bertengkar.  “sungguh gadis yang kejam” fikirku.
“masa bodooh mau permainan atau tidak, tapi kau telah curang !” katanya tanpa ampun, kemudian pergi meninggalkan taman.

Esoknya…
“rinaaaaaaaaaaa …. Main yukkk ?” kataku di depan rumahnya.
“main apa? ” katanya riang.
Nah benar kan ? Apa kataku. Kami sudah berdamai tanpa ada yang minta maaf, ini yang membuat kami bersahabat, entah mengapa kami merasa saling cocok.
“main bolaaaa” kataku semangat.
“bola ? hmm yasudah.”
Kami bergegas menuju lapangan bola yang tak jauh dari taman, seperti biasa taman ini selalu ramai oleh anak-anak sebayaku, meskipun dari SD dan kelas yang berbeda, kami semua tetap akur, Tapi entah kenapa sejak tiba di lapangan Rina bersifat dingin, apa masih marah karna soal kemarin, biasanya ia selalu semangat jika ku ajak bermain bola. Kalau hari biasa dia ramai mengatur strategi, atau sekedar menjadi kiper, tapi kali ini ia termenung dan hanya duduk di pinggir lapangan dengan wajah sedih, kenapa dia ? segera saja aku mendekatinya.
“kamu kenapa ?” tanyaku.
“besok aku pindah ke Tibet, ibuku akan bertugas disana dengan waktu yang cukup lama, dan gatau kapan kesini lagi,kita akan berpisah” katanya spontan dengan butiran bening mengalir dipipinya.
“Dia menangis ! astgaaa…….” Kataku dalam hati, aku sangat terkejut mendengar berita itu. Tapi sebagai anak laki-laki aku berusaha menahan air mataku.
“aku berangkat kebandara jam 12siang, aku harap kita bisa berjumpa sebelum aku pergi” pintanya sambil berjalan pulang.
Aku hanya terbengong diam di pinggir lapangan, bagaimana bisa ? aku kesal dengan takdirku yang mengharuskan berpisah dengan dia, dia sahabat terbaikku meskipun kami berbeda (aku laki-laki ,dan dia perempuan) tapi kami tetap kompak. Dengan langkah gontai aku menuju rumah.
Esok paginya entah bagaimana caranya aku harus bolos sekolah, terus terang aku kepada ibuku mengenai pindahnya Rina dan ibuku ,menyetujuinya aku tidak sekolah hari ini agar bisa mengantar kepergian Rina. Jam 10 aku segera bergegas menuju taman, disitulah kami berjanji akan bertemu,tanpa ku duga Rina sudah ada disana, padahal jadwal ketemuan kami jam 11. Ku lihat matanya mengisaratkan kesedihan namun terhalang oleh keceriaannya, kulihat matanya sedikit membesar dan merah, mungkin tadi malam ia menangis. Entah kenapa perasaanku menjadi merasakan takut kehilangan, sangaaat takut kehilangan.
“kamu udah dateng ?” katanya tanpa mengengok ke arahku. Mungkin ia sadar kehadiranku.
“kamu sendiri kenapa udah dating jam segini ?” aku balas bertanya lagi.
“aku mau ngucapin perpisahan sama semua isi taman ini” jawabnya.
“kamu beneran jadi pindah ?” tanyaku lagi.
“iya” jawabnya singkat.
“kenapa takut kangen ya ? haha… gausah takut aku juga ngerasain apa yang kamu rasa” lanjutnya.
“apa maksudnya ? ia merasakan apa yang aku rasa ?” batinku.
“sebentar lagi aku mau pergi, aku menitipkan ini …” katanya sambil menyerahkan sebuah kalung berbandul seekor merpati berwarna putih kebiru-biruan muda.
kata banyak orang, merpati akan selalu setia, dia tak akan terpisah karna memiliki ikatan batin sekalipun mereka terpisah jauuuh,ia akan kembali pada pasangannya, rumahnya, dan apapun tujuannya akan bertemu kembali, dan aku mau kita kaya merpati, tidak akan terpisah sejauh apapun jarak yang membentang.” Jelasnya, kali ini ia terlihat lebih tegar daripada kemarin. Aku kagum terhadapnya, tanpa sengaja aku langsung memeluknya.
“makasih udah mau jadi sahabat aku, makasih udah mau mempercayai aku untuk menjanga kalung ini, dimanapun kita berada sejauh dan sesulit apapun yang kita hadapi kita tetap satu” kataku,aku merasakan pundakku basah karna tangisannya. Akupun menyeka air matanya.
“jangan nangis,janji sama aku kamu harus tegar !”
“iya bi,aku janji”katanya sambil tersenyum dan pergi meninggalkan taman.
“aku tunggu kamu yaa untuk kembali ke aku lagi !” teriakku.
Ia menoleh dan tersenyum tanpa sedikit kata-kata kemudian melambaikan tangan.
Itulah ingatan perjumpaan terakhirku dengan dia,genap 6tahun yang lalu, di taman ini. Aku selalu mengenang hari terakhir itu, dan aku sesuai janjiku,aku masih menunggu dia untuk datang kembali, ke taman ini dan kepadau. Tanganku menggenggam kalung itu, hanya ini tanda pengenal kita nanti, dimasa yang akan  datang ketika tak ada satupun yang saling mengenal. Tapi aku yakin suatu hari penantian ini akan berakhir dengan kebahagiaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar